Malam ini hujan begitu deras. Aku terbangun. seperti biasa kulihat papa sedang berkutak dengan komputernya. Dia tak tau aku terbangun. Posisi ku membelakanginya. kami tinggal di sebuah kost yang bisa dibilang sederhana. sepetak ruangan dengan kamar mandi kecil. Tapi terasa nyaman bagiku. Yah, asalkan bersamanya tentu ini tidak masalah bagiku.
Aku masih tak bergeming. Sedikit melamun. Entah mengapa terlintas dari benakku tentang isi sms dari ex wife nya yang buka diam - diam tanpa sepengetahuannya. mengabarkan bahwa anaknya sedang liburan sekolah, bisa untuk di ajak jalan-jalan di Jakarta. Well, aku tak tau apa balasan dari papa, yang jelas itu tak terjadi.
Setidak nya ada dua dugaanku kenapa papa tidak membawa Kevin jalan-jalan ke Jakarta. Yang pertama karena ada aku dan kedua karena uang. Itu sudah cukup masuk akal. Aku sudah tinggal satu atap dengannya. Tentu keberadaanku mengganggu jika papa membawa Kevin ke Jakarta. Padahal aku bisa sementara waktu pulang kerumah orang tua ku jika papa yang meminta. Uang, yah itu sangat berpengaruh. Kita berdua memang tidak bekerja. Aku tau bebannya sangat berat. Untuk makan setiap hari, membayar sewa kost setiap bulan, bayar cicilan motor nya, asuransi, dan tentu saja hutang yang menumpuk. Tentu papa tidak punya uang untuk biaya transport Kevin dari Medan ke Jakarta.
Bagiku ini menyesakkan, apalagi untuk nya. Aku bisa kapanpun pulang kerumah dan bertemu keluargaku. tapi tidak untuk nya. Aku tak berani membahas ini dengan nya walaupun sebenarnya aku ingin tau apa perasaan dan isi hatinya. Tak ada yang bisa kulakukan untuk nya, bahkan untuk diriku sendiri pun aku tak bisa, aku hanya bergantung kepadanya. Aku ingin sekali bekerja, setidaknya aku tak ingin membebaninya.
Tersirat dari pancaran matanya kalau papa sangat merindukan anaknya. Aku bisa membacanya setiap kali dia bercerita tentang anaknya atau cerita-cerita dulu bersama anaknya. Entahlah, tak ada yang bisa kulakukan. Aku hanya berharap papa akan baik-baik saja dengan perasaan nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar