Suatu malam saya dan papa (pacar
saya, dan begitulah saya memanggilnya) pernah membicarakan satu hal yang bisa dibilang ‘berdebat’ tapi bukan saling
menjatuhkan. Kami hanya sekedar sharing dan bertukar pendapat. Untuk yang belum
tau saya seorang muslim dan papa non muslim. Disini saya tidak akan membahas
kami berbeda agama. Dia pernah bertanya “mengapa islam diharamkan memakan daging
babi?” aku tau dari pertanyaan nya itu tersirat ketidaksetujuan dari dia
tentang adanya larangan yang ada di islam tentang diharamkannya makan daging babi.
Jujur aku adalah termasuk seorang
muslim yang biasa-biasa saja, aku belum mempelajari islam terlalu dalam. Dari pertanyaan
nya aku hanya bisa menjawab “Allah melarangnya yang tertera di Al-Quran”. Jangan
tanya surat apa dan ayat berapa, tentu aku tidak tau. Aku hanya bisa menjawab
seperti itu, karena aku berpegang pada Al-Quran, dan aku meyakini itu.
Untuk mencari tau jawaban yang
lebih akurat, aku searching di google dan aku mengutip dari berbagai sumber. Aku
akan posting disini. Aku berharap suatu hari si papa bisa membaca blog ku ini. Entah
papa akan puas dengan jawabannya atau tidak. Karena aku tau prinsipnya adalah
logika diatas segala-galanya. Hahahhaa.
Dalam QS. Al-Baqarah [2] ayat 173 dikatakan
Sesungguhnya Allah mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan
binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi
barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya
dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dalam ayat tesebut jelas bahwa umat islam melarang makan babi, bangkai, darah, dan binatang-binatang lain yang tida disembelih atas nama Allah kecuali dalam keadaan amat sangat terpaksa. Kenapa? disinilah letak kuasa Allah. Segala apa yang diperintahkan atau diperbolehkan (halal) dan apa yang dilarangnya (haram) pasti berguna untuk manusia.
Allah berfirman dalam QS. Shaad [38] ayat 29 :
Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan
kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan
supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.
Misalnya, ketika seorang muslim melakukan shalat dan ditanyakan kepadanya, mengapa dia shalat?, maka
jawabannya adalah bahwa karena Allah SWT telah memerintahkannya untuk shalat.
Tentang shalat itu ada manfaatnya buat kesehatan atau ketenangan jiwa dan sebagainya, tidaklah menjadi landasan dasar
atas shalatnya. Dan di situlah peran niat yang sesungguhnya. Demikian
juga, tidak makan babi bukan karena takut ada cacing pita atau bukan karena penyakit-penyakit
yang ditimbulkan menurut para ilmuwan, melainkan karena Allah SWT sudah
mengharamkannya.
Seperti yang papa bilang sendiri, bukan untuk
membanding-bandingkan yah pa, bahwa ada penganut budha dewi Kwan Im mengisahkan
bahwa ayahnya direinkarnasi menjadi seekor sapi, itulah sebabnya mengapa sapi
dianggap suci dan tidak boleh memakannya. Mungkin itu jugalah yang kemudian
membuat para biksu dan pemuka agama budha untuk menjadi vegetarian atau tidak
memakan yang bernyawa dan berdarah. Apa agama lain bisa menerima ajaran
tersebut?? Saya yakin tidak. Tapi kalo dilihat dari sudut pandang penelitian
dan pengetahuan tentang manfaat vegetarian bagi kesehatan, oh tentu pasti ada yang
setuju.
Saya hanya ingin memberikan jawaban seperti ini saja, tidak
ingin berdasarkan logika atau ilmu pengetahuan, penelitian tentang apa yang
terkandung dalam babi, tentang kejorokan hidupnya, lemaknya yang tinggi, atau
apapun karena papa bisa searching sendiri. Karena yang papa inginkan adalah
dari kacamata islam.
Allah tidak membenci babi kok, Allah menciptakan segala
sesuatu tentu bermanfaat. Babi pasti bermanfaat, tapi mungkin tidak untuk di
konsumsi. Selagi masih ada makanan yang lain kenapa harus dipermasalahkan
dengan satu jenis makanan atau hewan yang tidak bisa di konsumsi.
Sekian dari saya Pa. Salam cinta dari ku, heheehe.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar