Kami saling kenal karena kami
dulu bekerja di tempat yang sama. Disebuah perusahaan batubara yang masih baru
dirintis. Awalnya kami sekedar rekan kerja. Walaupun kami bukan satu divisi
tapi pekerjaan kami saling berhubungan. Dia sebagai manager operasional yang
lebih banyak bekerja di lapangan. Sedangkan aku hanya seorang admin yang
memantau pengiriman dan apa-apa saja yang terjadi di lapangan.
Sesekali dia ke kantor untuk
laporan. Dia pernah melihatku mengenakan mukena. Aku hendak shalat dzuhur di
lantai bawah tepatnya di meeting room. Dia tak sengaja lewat dan melihatku. Aku
pun yang memulai shalat tau jika ada orang yang lewat. Dia tersenyum padaku dan
aku pun membalas senyumannya.
“Ih ngapain diliatin Pak Akiet,
aku kan mau solat , malu kalo diliatin” Kataku kepadanya yang tak juga beranjak
pergi. Begitulah dulu aku memanggilnya.
“Ye, shalat mah shalat ajah,
emang gak boleh kalo diliatin?” Tanyanya tanpa merasa berdosa.
“Bukannya gak boleh Pak, aku malu
kalo shalat diliatin nanti aku jadi gak konsen” Kataku jujur.
“Oh gitu. Oke deh” Katanya sambil
cengar-cengir.
Aku melanjutkan shalat ku.
Sebenarnya tidak terlalu konsentrasi. Sebab dia masih di lantai bawah di ruang
resepsionis. Kenapa aku begitu was-was? Karena dia itu orang yang usil. Bisa
saja dia tiba-tiba lewat dan memperhatikanku saat aku shalat. Tapi,
kecurigaanku itu salah. Dia masih duduk dengan manis sambil mengobrol dengan
petugas resepsionis. Aku kemudian menghampirinya sekaligus mengembalikan mukena
yang tadi aku pinjam dari petugas resepsionis.
Tanpa di duga dia berkata “saya
senang lihat kamu pakai mukena, saya suka” . beberapa detik kemudian aku
tersipu malu sekaligus kagum. Dia non muslim, tepatnya beragama budha tapi bisa
memuji ku yang mengenakan mukena.
Ketika kami sudah menjalin
hubungan, tentu ini bukan perkara mudah. Ini menjadi percakapan penting. Aku
tak tau mengapa dengan berani dia berkata akan masuk ke agama ku. Aku tau dia
tidak akan main-main dengan perkataan nya dan aku mengagumi itu. Walaupun
begitu sudah hampir satu tahun kami menjalani hubungan ini, ia masih tetap
menganut agamanya. Aku pun tak ingin memaksanya untuk sesegera mungkin
berpindah ke agama ku. Aku hanya ingin dia sadar sendiri untuk bertanggung jawab
dengan apa yang dia katakan.
Pernah aku merasa risih saat ketika
dia pergi bersama keluarganya untuk sembahyang di vihara. Maaf kalau ini
terlalu riskan untuk di bahas, tapi inilah yang memang terjadi. Pernah ada
suatu kejadian dimana aku tak mau mencium bibirnya kalau dia habis makan babi.
Ya sudahlah, aku tak ingin
membahas ini lebih jauh. Walaupun banyak percakapan-percakapanku dengan nya
mengenai masalah ini. Intinya kami berbeda keyakinan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar