Senin, 26 November 2012

21 VS 42 #kami berbeda keyakinan


Kami saling kenal karena kami dulu bekerja di tempat yang sama. Disebuah perusahaan batubara yang masih baru dirintis. Awalnya kami sekedar rekan kerja. Walaupun kami bukan satu divisi tapi pekerjaan kami saling berhubungan. Dia sebagai manager operasional yang lebih banyak bekerja di lapangan. Sedangkan aku hanya seorang admin yang memantau pengiriman dan apa-apa saja yang terjadi di lapangan.

Sesekali dia ke kantor untuk laporan. Dia pernah melihatku mengenakan mukena. Aku hendak shalat dzuhur di lantai bawah tepatnya di meeting room. Dia tak sengaja lewat dan melihatku. Aku pun yang memulai shalat tau jika ada orang yang lewat. Dia tersenyum padaku dan aku pun membalas senyumannya.

“Ih ngapain diliatin Pak Akiet, aku kan mau solat , malu kalo diliatin” Kataku kepadanya yang tak juga beranjak pergi. Begitulah dulu aku memanggilnya.
“Ye, shalat mah shalat ajah, emang gak boleh kalo diliatin?” Tanyanya tanpa merasa berdosa.
“Bukannya gak boleh Pak, aku malu kalo shalat diliatin nanti aku jadi gak konsen” Kataku jujur.
“Oh gitu. Oke deh” Katanya sambil cengar-cengir.

Aku melanjutkan shalat ku. Sebenarnya tidak terlalu konsentrasi. Sebab dia masih di lantai bawah di ruang resepsionis. Kenapa aku begitu was-was? Karena dia itu orang yang usil. Bisa saja dia tiba-tiba lewat dan memperhatikanku saat aku shalat. Tapi, kecurigaanku itu salah. Dia masih duduk dengan manis sambil mengobrol dengan petugas resepsionis. Aku kemudian menghampirinya sekaligus mengembalikan mukena yang tadi aku pinjam dari petugas resepsionis.

Tanpa di duga dia berkata “saya senang lihat kamu pakai mukena, saya suka” . beberapa detik kemudian aku tersipu malu sekaligus kagum. Dia non muslim, tepatnya beragama budha tapi bisa memuji ku yang mengenakan mukena.

Ketika kami sudah menjalin hubungan, tentu ini bukan perkara mudah. Ini menjadi percakapan penting. Aku tak tau mengapa dengan berani dia berkata akan masuk ke agama ku. Aku tau dia tidak akan main-main dengan perkataan nya dan aku mengagumi itu. Walaupun begitu sudah hampir satu tahun kami menjalani hubungan ini, ia masih tetap menganut agamanya. Aku pun tak ingin memaksanya untuk sesegera mungkin berpindah ke agama ku. Aku hanya ingin dia sadar sendiri untuk bertanggung jawab dengan apa yang dia katakan.
Pernah aku merasa risih saat ketika dia pergi bersama keluarganya untuk sembahyang di vihara. Maaf kalau ini terlalu riskan untuk di bahas, tapi inilah yang memang terjadi. Pernah ada suatu kejadian dimana aku tak mau mencium bibirnya kalau dia habis makan babi.

Ya sudahlah, aku tak ingin membahas ini lebih jauh. Walaupun banyak percakapan-percakapanku dengan nya mengenai masalah ini. Intinya kami berbeda keyakinan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar