Senin, 26 November 2012

21 VS 42 #perbedaan status dan latar belakang


Indahnya makan satu bungkus ketoprak berdua. Bukan karena irit, tapi aku tak habis jika harus makan sendiri. Ditemani siaran tv perdebatan tentang UMP buruh. Di sela-sela makan kami ikut berkomentar, malah terjadi perdebatan yang lebih seru, yaitu antara kami berdua. Dia melenceng jauh dengan membanding-bandingkan dengan Negara cina. Dia berpendapat perekonomian di cina jauh lebih terarah dengan sistem yang lebih jelas. Aku hanya menganggu angguk ketika dia mulai memuji negara yang terkenal dengan tembok raksasanya itu. Padahal dia kan warga Negara Indonesia.

Dia keturunan tionghoa, berasal dari Medan. Orang orang biasanya menyebut dengan ‘cina medan’. Dia banyak bercerita tentang kebudayaannya. Seperti tradisi kelahiran, pernikahan, sampai kematian. Itu sangat menarik karena tentu berbeda dengan kebudayaan ku. Ayahku asli betawi sedangkan ibu ku indramayu. Kita saling sharing tentang kebudayaan kita. Menurutku inilah salah satu perbedaan yang indah.

Satu hal yang paling aku tau tentang tradisi mereka adalah mereka hanya menikah dengan sesama keturunan tionghoa. Dia pernah bercerita yang hampir membuat ku down. Keluarganya paling anti menikah dengan pribumi. Orang tuanya pernah bilang tak akan mengakui nya sebagai anak jika dia menikah dengan pribumi. Dia pun punya pengalaman kelam ketika dulu masih muda dia berpacaran dengan pribumi. Dia diusir dari rumah sekaligus dari Jakarta. Dia harus balik ke Medan dan tidak boleh datang lagi ke Jakarta jika belum mendapat pacar yang sesama keturunan tionghoa. Pelik memang. Membuatku hopeless. Tak ada restu bukan hanya pada orang tua ku ternyata dari pihaknya pun tidak merestui.

Istri terdahulu nya pun sama dengannya cina medan. Aku tak tau bagaimana harus menceritakan tentang status nya. Mereka tidak bercerai, tapi mereka berpisah. Selama ini aku berpura-pura kuat dan baik-baik saja saat aku tau kalau dia sedang dan masih berkomunikasi dengan ex wife nya. Begitulah aku menyebutnya. Aku tau apa yang sebenarnya terjadi dengan hubungan mereka. Tapi aku mencoba membohongi diriku sendiri kalau sudah tak terjadi apa-apa. Untuk saat ini masalah ini lah yang selalu membuatku galau. Biasanya aku diam seribu bahasa jika aku sedang cemburu. Hanya itu yang kubisa.

Dia mempunyai satu anak. Namanya Kevin. Bukan anak kandung melainkan anak adopsi. Tapi apapun sebutannya kevin tetaplah anaknya. Bahkan ada harapan yang ia titipkan di pundak kevin layaknya seorang ayah kepada anak kandung nya. Dia banyak bercerita tentang kevin. Aku bisa menerimanya. Aku juga ingin tau lebih banyak tentang kevin. Tapi jujur aku tak suka jika ia bercerita tentang ex wife nya. Apalagi mengenang kebaikan-kebaikannya. Kevin ataupun ex wife nya sampai detik ini tidak tau akan keberadaanku.

Aku tak menyalahkan papa seratus persen dalam hal ini. Dari awal aku memang sudah tau situasi nya. Dia berkata jujur padaku tak ada yang dia tutup-tutupi. Justru aku lah yang mendorong diriku sendiri lebih jauh ke dalam. Aku harus menerima semua kondisi ini. Aku terlanjur mencintainya. Terlambat bagiku untuk mundur ataupun menyerah. Aku belajar untuk tidak peduli dengan kondisi ini. Aku sama sekali tak ingin memikirkan ex wife dan anaknya. Dia mencintaiku dan aku mencintainya. Aku tak mau peduli dengan perasaan mereka. Aku tak mau tau bagaimana perasaan mereka jika tau keberadaanku. Aku tak mau menyalahkan diriku sendiri atas apa yang sudah terjadi. Sampai kapanpun aku tak merasa bersalah. Aku tak merebutnya dari mereka. Mereka yang membuangnya. Mereka meninggalkannya. Aku menemukannya dalam keadaan dimana dia butuh seseorang untuk menemani nya.

Apa aku jahat? Silahkan beropini demikian. Malah seharusnya ini tak adil bagiku. Seharusnya aku bisa mendapatkan yang lebih baik dari ini. Seharusnya aku bisa lebih bahagia. Mungkin karena itu papa pun bilang aku tak salah dalam hal ini. Apapun yang aku rasakan dan apapun yang aku lakukan itu wajar. Aku bisa melihat kesakitan dimatanya saat dia pun tau aku sakit menahan semua ini.
“jangan menyesal apa yang sudah terjadi, lebih baik kita memikirkan apa yang akan terjadi” kata-katanya itu yang membuatku lebih kuat kini. Kuharap untuk selamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar