Indahnya makan satu bungkus
ketoprak berdua. Bukan karena irit, tapi aku tak habis jika harus makan
sendiri. Ditemani siaran tv perdebatan tentang UMP buruh. Di sela-sela makan
kami ikut berkomentar, malah terjadi perdebatan yang lebih seru, yaitu antara
kami berdua. Dia melenceng jauh dengan membanding-bandingkan dengan Negara
cina. Dia berpendapat perekonomian di cina jauh lebih terarah dengan sistem
yang lebih jelas. Aku hanya menganggu angguk ketika dia mulai memuji negara
yang terkenal dengan tembok raksasanya itu. Padahal dia kan warga Negara
Indonesia.
Dia keturunan tionghoa, berasal
dari Medan. Orang orang biasanya menyebut dengan ‘cina medan’. Dia banyak
bercerita tentang kebudayaannya. Seperti tradisi kelahiran, pernikahan, sampai
kematian. Itu sangat menarik karena tentu berbeda dengan kebudayaan ku. Ayahku
asli betawi sedangkan ibu ku indramayu. Kita saling sharing tentang kebudayaan
kita. Menurutku inilah salah satu perbedaan yang indah.
Satu hal yang paling aku tau
tentang tradisi mereka adalah mereka hanya menikah dengan sesama keturunan
tionghoa. Dia pernah bercerita yang hampir membuat ku down. Keluarganya paling
anti menikah dengan pribumi. Orang tuanya pernah bilang tak akan mengakui nya
sebagai anak jika dia menikah dengan pribumi. Dia pun punya pengalaman kelam
ketika dulu masih muda dia berpacaran dengan pribumi. Dia diusir dari rumah
sekaligus dari Jakarta. Dia harus balik ke Medan dan tidak boleh datang lagi ke
Jakarta jika belum mendapat pacar yang sesama keturunan tionghoa. Pelik memang.
Membuatku hopeless. Tak ada restu bukan hanya pada orang tua ku ternyata dari
pihaknya pun tidak merestui.
Istri terdahulu nya pun sama
dengannya cina medan. Aku tak tau bagaimana harus menceritakan tentang status
nya. Mereka tidak bercerai, tapi mereka berpisah. Selama ini aku berpura-pura
kuat dan baik-baik saja saat aku tau kalau dia sedang dan masih berkomunikasi
dengan ex wife nya. Begitulah aku menyebutnya. Aku tau apa yang sebenarnya
terjadi dengan hubungan mereka. Tapi aku mencoba membohongi diriku sendiri kalau
sudah tak terjadi apa-apa. Untuk saat ini masalah ini lah yang selalu membuatku
galau. Biasanya aku diam seribu bahasa jika aku sedang cemburu. Hanya itu yang
kubisa.
Dia mempunyai satu anak. Namanya
Kevin. Bukan anak kandung melainkan anak adopsi. Tapi apapun sebutannya kevin
tetaplah anaknya. Bahkan ada harapan yang ia titipkan di pundak kevin layaknya
seorang ayah kepada anak kandung nya. Dia banyak bercerita tentang kevin. Aku
bisa menerimanya. Aku juga ingin tau lebih banyak tentang kevin. Tapi jujur aku
tak suka jika ia bercerita tentang ex wife nya. Apalagi mengenang
kebaikan-kebaikannya. Kevin ataupun ex wife nya sampai detik ini tidak tau akan
keberadaanku.
Aku tak menyalahkan papa seratus
persen dalam hal ini. Dari awal aku memang sudah tau situasi nya. Dia berkata
jujur padaku tak ada yang dia tutup-tutupi. Justru aku lah yang mendorong diriku
sendiri lebih jauh ke dalam. Aku harus menerima semua kondisi ini. Aku
terlanjur mencintainya. Terlambat bagiku untuk mundur ataupun menyerah. Aku
belajar untuk tidak peduli dengan kondisi ini. Aku sama sekali tak ingin
memikirkan ex wife dan anaknya. Dia mencintaiku dan aku mencintainya. Aku tak
mau peduli dengan perasaan mereka. Aku tak mau tau bagaimana perasaan mereka
jika tau keberadaanku. Aku tak mau menyalahkan diriku sendiri atas apa yang
sudah terjadi. Sampai kapanpun aku tak merasa bersalah. Aku tak merebutnya dari
mereka. Mereka yang membuangnya. Mereka meninggalkannya. Aku menemukannya dalam
keadaan dimana dia butuh seseorang untuk menemani nya.
Apa aku jahat? Silahkan beropini
demikian. Malah seharusnya ini tak adil bagiku. Seharusnya aku bisa mendapatkan
yang lebih baik dari ini. Seharusnya aku bisa lebih bahagia. Mungkin karena itu
papa pun bilang aku tak salah dalam hal ini. Apapun yang aku rasakan dan apapun
yang aku lakukan itu wajar. Aku bisa melihat kesakitan dimatanya saat dia pun
tau aku sakit menahan semua ini.
“jangan menyesal apa yang sudah
terjadi, lebih baik kita memikirkan apa yang akan terjadi” kata-katanya itu
yang membuatku lebih kuat kini. Kuharap untuk selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar