Senin, 26 November 2012

21 VS 42 #Mom, Dad, Brother, Sister, I'm so sorry


Aku sadar umurku masih belum genap 21 tahun. Aku membuat pilihan. Aku meninggalkan rumah. Aku meninggalkan orang tua dan keluargaku. Aku hidup bersamanya sekarang. Aku mencintai mereka. Sungguh aku mencintai mereka. Aku berdusta pada keluargaku. Aku bilang telah bekerja dan tinggal bersama temanku. Aku sudah siap dengan semua resiko yang terjadi jika kebohongan ku terbongkar.

Aku berasal dari keluarga yang biasa saja. Bahkan keluargaku pernah mengalami masa-masa sulit mengenai keuangan. Gaji ayahku hanya cukup untuk makan kami sehari-hari. Ibuku lah yang bekerja keras untuk membiayai sekolah aku dan kakak perempuanku. Beliau wanita yang paling tangguh yang pernah aku kenal. Aku baru menyadarinya sekarang. Ketika sudah berbulan-bulan aku berpisah darinya.

Jujur aku lebih akrab dengan nenek ku daripada ibuku. Aku lebih dekat dengan paman ku dibandingkan ayahku. Aku lebih percaya bercerita tentang percintaan ku kepada tante ku dibandingkan kakak ku. Kini adik ku baru berumur 7 tahun. Aku sangat menyayangi nya. Sangat.

Aku akui aku memang berdosa. Aku juga tidak menyangkal bila ada orang yang bilang kalau aku ini anak durhaka. Aku tidak bisa membalas semua kebaikan orangtuaku. Aku malah mencoreng wajah mereka dengan kelakuan ku. Aku tak bisa bayangkan bagaimana perasaan orangtuaku ketika mendengar banyak orang yang membicarakanku. Aku juga tidak bisa membayangkan bagaimana khawatirnya orang tuaku ketika anak perempuannya harus berkeliaran tinggal diluar.

Beberapa bulan sebelum aku memutuskan untuk meninggalkan rumah, ayahku sakit keras. Sampai harus dioperasi. Ada tumor yang menempel di bagian usus besar dan ginjalnya. Semuanya kacau saat itu. Keuangan kami terhimpit. Aku dan kakakku harus pinjam uang kesana kesini untuk biaya rumah sakit ayahku. Tapi ibuku begitu tegar, aku tak pernah melihatnya menangis atau mungkin dia berusaha menyembunyikannya. Ketika ada tumor di tubuh ayahku, ibu tak menangis. Pada saat operasi yang kemungkinan ayah ku untuk hidup 50 berbanding 50, aku tak melihat ketakutan  seperti yang pernah kulihat ketakutan dan kesedihan yang luar biasa terbungkus oleh butiran-butiran air matanya yang menetes deras. Yah, dia menangis untukku. Untuk seorang anak perempuan nya yang tidak berbakti padanya.

Aku tak tau lagi apakah masih ada waktu yang tersisa untuk membahagiakan mereka. Aku ingin, ingin sekali membuat mereka bangga. Kumohon tunggu, tunggu sampai aku bisa membahagiakan kalian. Tuhan, aku merindukan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar