Aku sadar umurku masih belum
genap 21 tahun. Aku membuat pilihan. Aku meninggalkan rumah. Aku meninggalkan
orang tua dan keluargaku. Aku hidup bersamanya sekarang. Aku mencintai mereka.
Sungguh aku mencintai mereka. Aku berdusta pada keluargaku. Aku bilang telah
bekerja dan tinggal bersama temanku. Aku sudah siap dengan semua resiko yang
terjadi jika kebohongan ku terbongkar.
Aku berasal dari keluarga yang
biasa saja. Bahkan keluargaku pernah mengalami masa-masa sulit mengenai
keuangan. Gaji ayahku hanya cukup untuk makan kami sehari-hari. Ibuku lah yang
bekerja keras untuk membiayai sekolah aku dan kakak perempuanku. Beliau wanita
yang paling tangguh yang pernah aku kenal. Aku baru menyadarinya sekarang.
Ketika sudah berbulan-bulan aku berpisah darinya.
Jujur aku lebih akrab dengan
nenek ku daripada ibuku. Aku lebih dekat dengan paman ku dibandingkan ayahku.
Aku lebih percaya bercerita tentang percintaan ku kepada tante ku dibandingkan
kakak ku. Kini adik ku baru berumur 7 tahun. Aku sangat menyayangi nya. Sangat.
Aku akui aku memang berdosa. Aku
juga tidak menyangkal bila ada orang yang bilang kalau aku ini anak durhaka.
Aku tidak bisa membalas semua kebaikan orangtuaku. Aku malah mencoreng wajah
mereka dengan kelakuan ku. Aku tak bisa bayangkan bagaimana perasaan orangtuaku
ketika mendengar banyak orang yang membicarakanku. Aku juga tidak bisa
membayangkan bagaimana khawatirnya orang tuaku ketika anak perempuannya harus
berkeliaran tinggal diluar.
Beberapa bulan sebelum aku
memutuskan untuk meninggalkan rumah, ayahku sakit keras. Sampai harus
dioperasi. Ada tumor yang menempel di bagian usus besar dan ginjalnya. Semuanya
kacau saat itu. Keuangan kami terhimpit. Aku dan kakakku harus pinjam uang
kesana kesini untuk biaya rumah sakit ayahku. Tapi ibuku begitu tegar, aku tak
pernah melihatnya menangis atau mungkin dia berusaha menyembunyikannya. Ketika
ada tumor di tubuh ayahku, ibu tak menangis. Pada saat operasi yang kemungkinan
ayah ku untuk hidup 50 berbanding 50, aku tak melihat ketakutan seperti yang pernah kulihat ketakutan dan
kesedihan yang luar biasa terbungkus oleh butiran-butiran air matanya yang
menetes deras. Yah, dia menangis untukku. Untuk seorang anak perempuan nya yang
tidak berbakti padanya.
Aku tak tau lagi apakah masih ada
waktu yang tersisa untuk membahagiakan mereka. Aku ingin, ingin sekali membuat
mereka bangga. Kumohon tunggu, tunggu sampai aku bisa membahagiakan kalian.
Tuhan, aku merindukan mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar