25 November 2012, pukul 21.45 aku
berbaring di kasur berukuran single. Nyaman memang karena ketika aku menolehkan
kepalaku ke kiri kulihat seorang laki-laki hampir separuh baya sedang konsen
berkutak dengan komputernya. Laki-laki itu berumur 41 tahun. 4 bulan lagi dia
akan bertambah usia. Aku biasa memanggilnya “Papa”. Dia bukan ayahku. Dia adalah
kekasih ku.
Sesekali aku melirik ke arah tv
yg di biarkan menyala tanpa satupun dari kami berdua yang fokus menonton siaran
sepak bola AFF Cup Malaysia kontra Singapore. Tak begitu menarik bagiku apalagi
dia yang sedang sibuk. Terkadang dia sedikit menjelaskan tentang apa yang
sedang ia kerjakan. Menunjukkannya kepadaku sambil menggerak-gerakkan mouse.
Aku fokus melihat monitor mengikuti arah kursor. Aku tidak begitu mengerti yang
ia jelaskan, atau mungkin lebih tepatnya aku mengerti setengah dari yang ia
jelaskan. Entahlah aku sedang tidak mood untuk berpikir hal-hal yang berat. Aku
sedang nyaman berbaring sambil menghayal hal apapun yang membuatku senang.
Aku hampir berumur 21 tahun. Aku
tidak suka dibilang dewasa dan aku jauh lebih tidak suka dibilang masih ABG.
Tinggi ku tidak lebih dari 158 cm. berat badanku hanya 43 kg. bisa dibayangkan
betapa kecilnya aku. Bahkan banyak orang yang bilang aku masih cocok mengenakan
pakaian seragam sekolah menengah. Aku pun sering sekali mengeluh kepada nya
tentang betapa tidak sukanya aku punya badan yang kurus. Dia selalu berkata
“bagi papa seperti ini tidak kurus kok. Papa suka, tidak usah begitu keras
ingin menaikkan berat badan. Seperti ini saja sudah cukup bagi papa”. Aku suka
kata-katanya itu. Setidaknya dia mau menerima ku apa adanya.
Aku menyukai apapun yang ada pada
dirinya. Rambut yang sudah agak memutih, kumis lumayan tebal, sedikit kerutan
yang mulai terlihat diwajahnya, aku menerima nya itu seperti dia menerima
kondisi badanku yang kurus. Aku tidak ilfeel sama sekali dengan kondisi nya.
Tentu aku sangat mencintainya. Aku tidak buta. Dia adalah laki-laki dewasa yang
sangat aku kagumi. Bahkan dia jauh lebih membuatku bergairah di bandingkan
dengan laki-laki yang seumuran denganku. Ingin bilang hubungan kami aneh atau
tidak wajar? Silahkan, sudah terbiasa kami mendengarnya. Itu seperti makanan
sehari-hari untuk kami.
Aku sadar ini tidak mudah. Banyak
sekali bisikan-bisikan dan pengaruh dari orang-orang terdekatku. Mereka
berpikir aku sedang berada di masa peralihan yang terkadang bisa melakukan
apapun diluar logika. Dengan keras kepala aku bertahan dengan pilihanku. Hingga
kemudian berkembang stigma-stigma buruk tentangnya dikalangan keluarga ku dan
orang-orang terdekatku.
Dia laki-laki dewasa yang jauh
lebih keras kepala dari ku. Tapi dia menyebutnya dengan prinsip yang tak bisa
di pengaruhi oleh orang lain kecuali aku. Dia pernah berkata “siapapun tidak
ada yang bisa menyuruhku untuk meninggalkan mu, tidak orang tua mu, tidak orang
tua ku, kecuali kau sendiri yang menyuruhku untuk meninggalkanmu”
Tuhan aku sangat mencintainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar